Friday, April 30, 2010

Benarkah Orang Toraja Bisa Mengendalikan Mayat ?

Beberapa hari terakhir ini, saya banyak mendapat pertanyaan dari pembaca. Kemarin setelah saya posting sebuah artikel mengenai zombie, banyak yang bertanya kepada saya tentang sebuah fenomena yang terjadi di tanah air tercinta kita ini, tepatnya di daerah Tana Toraja. Konon, dalam tradisi upacara kematian mereka, ada seseorang yang dapat membangkitkan sang mayat dan mengendalikannya. Bagaimanakah kisahnya? Saya akan berusaha menceritakan kisah ini sebaik mungkin untuk kalian.

Ketika saya mulai mencari informasi mengenai berita ini, hampir semua artikel yang muncul di blog maupun thread forum beritanya sama semua. Karena itu, saya akan mencoba menulis kisahnya dengan singkat dan jelas.

Konon, di sebuah desa Sillanang, ditemukan sebuah kuburan masal. Kuburan masal itu terletak di sebuah gua, dan penduduk setempat mengatakan bahwa mayat yang disimpan disana tidak pernah membusuk. Luar biasanya, mayat - mayat itu tidak diberi perlakuan khusus seperti proses pembalseman pada mumi Mesir Kuno.

Seorang penduduk bernama Tampubolon menduga jika ada semacam zat khusus yang membuat mayat - mayat itu tidak membusuk. Disamping kuburan yang ajaib itu, ada pula sebuah kisah mengenai mayat berjalan yang dikendalikan oleh seorang pawang. Mayat itu dikatakan berjalan layaknya orang yang masih hidup, hanya saja cara berjalannya agak terseok - seok.

Mayat itu dikendalikan dengan tujuan untuk menuntunnya kembali ke tujuan akhirnya, yaitu rumahnya sendiri. Diceritakan dahulu orang Toraja senang menjelajah daerah - daerah pegunungan. Mereka tidak menggunakan alat transportasi apapun ketika menjelajah. Dalam penjelajahan yang berat itu, beberapa orang tidak kuat untuk melanjutkan lagi dan jatuh sakit. Karena bekal dan obat - obatan yang dibawa sangat minim, anggota mereka yang sakit tadi akhirnya meninggal.

Karena mustahil untuk meninggalkan mayat rekan mereka, dan akan sangat merepotkan bila harus membawa pulang jenazahnya, maka dengan suatu ritual gaib, mereka membangkitkan mayat tersebut dan mengendalikannya. Mereka menuntun mayat itu sampai ke rumahnya. Ada pantangan yang tidak boleh dilakukan selama mayat itu belum sampai di rumahya, mayat tidak boleh disentuh, jika dilakukan, maka mantra yang ada pada sang mayat akan hilang. Sekian untuk penjelasan singkat yang telah beredar di internet. Berikutnya, saya akan menjelaskan dahulu Upacara Kematian Di Tana Toraja.

Upacara Kematian Tana Toraja

Rambu Solo

Tana Toraja memiliki tradisi upacara pemakaman yang rumit. Upacara yang disebut dengan Rambu Solo ini adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mengharuskan pihak keluarga mengadakan sebuah pesta sebagai penghormatan terakhir bagi sang mendiang.

Upacara Rambu Solo ini dikatakan upacara yang rumit karena memiliki sejumlah tingkatan sesuai dengan status sosial mendiang dan keluarganya. Biasanya jenazah tadi disertai pula dengan patung yang menggambarkan diri sang mendiang. Patung ini disebut tau - tau. Kemudian, pada prosesi terakhir, mayat tadi dibawa ke tebing dan diletakkan di dinding tebing begitu saja. Dan ajaibnya, seperti sepenggal kisah diatas, mayat yang diletakkan di dinding itu tidak mengeluarkan bau busuk.



Menurut ajaran Aluk Todolo ( kepercayaan masyarakat setempat), rumah adat toraja yang bernama Tongkonan itu mempunyai makna khusus. Menurut mereka, manusia yang hidup maupun yang telah meninggal itu sama saja. Jika masyarakat yang masih hidup berkumpul di dalam rumah mereka, yaitu Tongkonan, maka mereka yang telah meninggal berkumpul di tempat yang khusus dibuat sebagai "pasangan" Tongkonan yang disebut Liang.



Menurut ajaran Aluk Todolo, meninggalnya manusia hanya sebagai perubahan status saja dari kehidupan nyata ke alam gaib. Karena itu, manusia yang telah meninggal harus mendapat perlakuan yang sama dengan yang masih hidup. Salah satunya adalah ketika membangun Tongkonan tadi, maka harus dibangun pula Liang sebagai pasangannya.

Opini Singkat Saya Mengenai Kisah Mayat Berjalan

Sejenak tadi kita telah membahas tentang upacara pemakaman Tana Toraja walaupun singkat. Nah, sekarang bagaimana penjelasan mengenai kisah mayat berjalan diatas? Saya berusaha mengumpulkan beberapa informasi mengenai kisah ini dan saya pun mendapat berbagai artikel yang menceritakan kisah ini walau sebagian besar merupakan hasil copas.

Saya menemukan sebuah thread di KASKUS yang memuat artikel mengenai kisah mayat berjalan ini. Bahkan, Koran Tempo pun memuat berita mengenai ini, klik disini jika kalian ingin mengetahuinya.

Akan tetapi, dari semua artikel yang memuat berita tentang kisah ini, saya hanya menemukan SATU foto yang menunjukkan seseorang sedang memegang tangan orang yang diduga telah meninggal. Gambarnya memang menyeramkan, tapi anehnya hanya ada satu foto ini yang beredar di internet.
Berikut gambar yang beredar di internet.



Jika memang mayat berjalan ini benar - benar ada, seharusnya foto yang tersedia di internet lebih banyak lagi, tapi saya tidak dapat menemukan foto - foto lain. Sebenarnya, saya sangat menanti email pembaca yang ingin dikirimkan kepada saya seputar kisah tentang mayat berjalan ini, tapi rupanya email belum masuk di inbox saya (buat yang ingin mengirimkan emailnya kemarin, tolong dikirim y? he..he.hee).

Mengapa saya menanti emailnya? karena jika bagian akhir dari email tersebut berisi perintah untuk mem-forward isinya, maka bisa dipastikan bahwa kisah ini adalah HOAX, karena ciri - ciri berita HOAX lewat email adalah perintah untuk mem-forward ke email - email lainnya.

Kesimpulan

Demikian analisa singkat dari saya, jika suatu saat nanti saya memperoleh informasi lain mengenai kisah ini, saya akan segera meng-updatenya. Saya tidak menampik bahwa fenomena yang berbau mistis masih kental dalam kehidupan masyarakat kita. Saya belum dapat memastikan apakah kisah ini HOAX atau memang ini adalah aktifitas gaib yang benar - benar terjadi. Saya hanya berusaha menyampaikan hal yang ganjil dalam kisah mayat berjalan diatas. Terkadang, misteri memang sebuah misteri yang tidak dapat dijelaskan oleh sains, karena alam mempunyai rahasianya sendiri. Salam

( wikipedia.org, www.korantempo.com, mamasa-online.blogspot.com, onezimus.wordpress.com )

45 comments:

harits indi pradana said...

Ryu,aku jg prnah dpt cerita ini,guruku org toraja.konon wktu dia msh kcil,ttngganya ada yg mninggal,trs pake ritual tu mayat diidupin lgi..jdi mayatnya jlan k kburan sndiri..org sekampung tp pd g bole klur rmh,klo kluar rmh ktanya tr mantranya ilang ato mlah bkal ngjar org..
(='3'=)

Vahn Saryu Personal Blog said...

@ Harits
mayatnya jalan ke kuburan ? bukannya tradisi Toraja itu menyimpan mayat dahulu untuk menjalani upacara pemakaman, sebelum akhirnya dibawa ke tebing

my city_van said...

wah..pasti yg dimaksud vahn ..saya deh...(kepedean : mode on) ..honestly saya sudah fwd loh emailnya...dan gambar di email itu hanya 1,yg ada mayatnya itu. sebenarnya gambar itu fwd dari temen2 sekantor dan email pertama dari luar hanya 1 email address, mungkin sudah di delete sebagian fwd-an (karena kebanyakan mungkin)..saya juga tidak tau,harusnya sih memang kalo ritual seperti itu merupakan suatu adat kebiasaan pastinya kejadian berulang2 dan kemungkinan gambar yg didapat juga banyak..mungkin vahn harus cari info langsung sama orang2 toraja soal budaya seperti itu...
btw. nice article, now, at least i know more than before...:):):) bahas duonk soal kepribadian ganda....

Vahn Saryu Personal Blog said...

@ my city_van
Email dari kamu belum masuk, suer deh :). Mungkin gmail lagi bermasalah kali ya.
Yup, pendapat kamu benar. Jika memang tradisi ini masih dilakukan sekarang, meskipun sudah jarang katanya, maka foto - foto tentang tradisi ini pasi lebih banyak lagi.
Nanti kalau saya punya temen dari Toraja akan saya tanyakan deh soal tradisi ini, he..he..he

Anonymous said...

BaMbz
kak,tolong kasihin link mobile view donk ,aku juga pengen nyimak ,tapi dirumah ndak ada koneksi ,jadi pengen lewat hp aja ,thx

putri_maulatiwi said...

@harits > trus tau dari mana dong mayatnya bener2 jalan kalo gag ada yang boleh lyat??? adwhh.. bingung deh gww..

Anonymous said...

Ni hoax, benar2 hoax!! Masak ada sih org Toraja bernama Tampubolon? Itu Batak bos! Hahaha.. Laen x lbh teliti y bos..

Vahn Saryu said...

@ Anonymous
Saya hanya menceritakan ulang kisah yang banyak beredar internet. Soal nama itu, memang bisa saja jadi indikator HOAX dari kisah ini. Thanks

Anonymous said...

aku orang MAkassar............ tapi bukan Toraja!!!! kalau mengenai nama Tampubolon itu lazim bagi orang makassar, dan memang ada sebagian orang-orang tua yang namanya agak-agak mirip batak namanya........... dan saya rasa itu bukan alasan ini sebagai HOAX.........

Dulu ketika saya masih kecil, saya pernah diceritakan kisah-kisah ini, tapi tidak pernah saya anggap nyata!!!!

entah itu benar atau tidak, saya kurang tau, namun statusnya sama dengan legenda, dipercaya namun belum tentu benar adanya.

By Aldy Makazar!!!!

Anonymous said...

mnrt sy, apa yg diuraikan di atas mengenai mayat berjalan pd ritual pemakaman org toraja itu mmg benar (ini mnrt crta tmn dkt sy yg asli org toraja) itu ritual penguburan dengan menggunakan ilmu gaib tp itu dulu kala dmn saat itu belum ada transportasi dan pendudukx msh atheis atw blom beragama. klo di jaman skg, ritual pengadaan pesta kematian sesuai adat dsna msh dijunjung tinggi msh ada tp untuk prosesi penguburan tdk lg sprti kebiasaan lama melainkan dgn mnggunakan transportasi sprti kereta atw kendaraan jenasah untuk mngantarkan si mati ke peristirahatan terakhirnya... ini skdr info tmbhn yg sy tahu... mks ^_^

Verisky said...

Katanya kalo di pegang mantranya ilang, kok itu di lap-lap tangannya?????

Vahn Saryu Personal Blog said...

@ Verisky
Konon menurut cerita memang seperti itu

Anonymous said...

Aq orang toraja asli, SY sgat berterimah kasih kepada VAHN SARYU krna sdah mem post kan Toraja di Blogx. Orang Toraja memang bs mengendalikan mayat tetapi tdk smua orang Toraja bsa melakukanx hanya mreka2 yg masi menganut aluk todolo semacam kepercayaan animisme, tapi di jaman skarang sdh tdak ad lagi tinggal yang mengendalikan kerbau yang sudah mati, jd kerbau yang diptong pada acara rambu solo' bsa di kendalikan meskipun itu sdah mati dan sdah di kuliti msih bsa berdiri dan mengamuk..THANX klu ad pertanyaan slahkan kirm emailx ke t_you10@yahoo.com

Andela Rassinglili said...

Saya adalah orang Toraja. Menurut saya foto di atas adalh upacara ma' nenek (menganti pakaian mayat). terakhir kali orang toraja membuat mayat berjalan adalah saat Agama Kristen Protestan masuk ke toraja. Agama Kristen Protestan Melarang keras ajaran2 seperti itu. Menjalankan mayat terakhir kali digunakan untuk memulangkan orang yang meninggal saat perang dengan belanda. Hal ini terjadi karena benteng2 yg terdapat di toraja 100% adalah gunung yg sangat strategis yang tidak bisa dituruni/dinaiki dengan mudah sehingga mau tidak mau menjalankan mayat adalah cara untuk memulangka mayat seseorang yg mati di peperangan. Oleh karena itu Toraja adalah salah satu wilawah yang tidak dapat dijajah sedetik pun. Ada kisah tanteku saat masih duduk di bangku SMP:
Tanteku adalh orang cukup cantik sehingga suatu ketika saat pelajaran olahraga berlangsung, tanteku ini sakit dan tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga. ada seorang teman sekelasnya ( laki-laki) juga tidak ikut pelajaran olahragam pada saat itu. Tiba-tiba tanteku ini dibisik. Seketika itu juga tanteku berteriak-teriak . tanteku langsung dibawa ke rumah. dirumah dia langsung dikurung. ternyata tanteku dimantrai dengan mantra pembangkit mayat. sore itu juga kakekku langsung menemui anak yg memantrai tanteku. ditamparnya anak itu keras2. kakekku adalh seorang tentara. dahulu jika orang bermasalah dengan keluarga tentara maka dipastikan akan dimaksukkan kedalam penjara. anak ini di bawah kerumah kakekku lalu disuruh untuk mnyembuhkan tanteku. anak ini ternyata tidak tau cara menghilangkan mantranya karena iya baru diajarkan mantranya saja oleh ayahnya. akhirnya ia pun pergi kepalopo untuk memanggil kakaknya. setelah diminumkan air putih yg dibacakan mantra maka tanteku ini sudah bisa tenang. didudukanlah dia di atas kain hitam. sesaat kemudian serpihan kaca keluar dari seluruh badannya. jumlah serpihan kacanya mencapai satu gelas minum untuk arak. Mau tahu kisah nyata lainnya? tanyakan ken saya:
andela_rssinglili@yahoo.com

Vahn Saryu said...

Hmm..kisah yg sngat mnarik,thanks atas infonya..
Mngenai fto diatas, mmang slh stu bgn dr adat toraja (sdh djlaskan dlm blog enigma)
Sy trtarik dgn info yg anda brikan,memang bnyak skali bdaya2 yg unik dan msterius di Indnesia

Anonymous said...

Kk vahn aku dulu kalo ngga salah pernah baca artikel sperti ini di enigma deh minta aja fotonya di bang enigma kalo g salah fotonya ada 3 salah satunya yang ini...

Vahn Saryu said...

Ya, saya memang lebih dulu membahas topik ini, namun yang memecahkannya adalah Enigma :)

taffy said...

minta link yg ttg mayat toraja ini di blog enigma dong kk vahn saya cari ga ketemu :)

Vahn Saryu said...

@taffy
Memang aneh...saya juga tidak berhasil menemukan postingan enigma soal mayat berjalan Toraja, akan saya tanyakan dahlu kepada beliau :)

Anonymous said...

waooooooooooo, mayat bisa jalan ya???
ataw pake sepatu roda kalieeeeeeee (CANDA).Tak bisa dipungkiri, hal yg seperti itu memang nyata bagi yg percaya.Bisa jg sbg ajang tes adrenalin bagi para pelaku MISTIS

Anonymous said...

saya orang Toraja. dan tradisi di atas itu NYATA. bhkan sampai skarang masih ada. n ktax kalau ada turis yang datang dan ingin menyaksikannya bisa asal bayar. itu nyata fakta.

padamoto, kurre sumanga'

Anonymous said...

Maaf mas tp bkn cuma orng toraja orng mamasa bisa juga...

Anonymous said...

saya, org toraja asli, pawang yg menjalankan org mati itu , sampai pada zaman sekarang masih ada , cuma karna sekarang transportasi sudah ada , maka banyak org yg nda menggunakan ilmu gaib tersebut. dan
apabila anda ingin melihat fotonya, itudi larang , cuma org" tertentu saja yg boleh lihat , karena hanya org yg punya ilmu tinggi yg bisa ngeliat itu ,
sekian kawan
thanks

love my life said...

@anonymous u're right
gw juga org toraja but kelamaan di balikpapan. Bokap gw pernah cerita masalah org meninggal tapi masih bisa jln, menurut gw itu ga lazim tapi mau gimana lagi, lah kenyataannya emang gitu n banyak orang yg gw ajak diskusi masalah ini dgn melibatkan org" tua (ga perlu anak muda). Alhasil gw percaya coz mereka meng"ia"kan. Kata mereka, zaman dulu emang ada, but berjalannya waktu sekarang udah ga da lagi. coz udah sangat jarang yg punya ilmu" tersebut. kalau masalah hewan yg mati mah, waktu gw umur 7thn lihat sendiri di alang".
Ni salah satu budaya yg wajib di lestarikan alnya keberadaannya sudah mulai hilang.

ivone ruth tondok said...

@anonymous u're right
gw juga org toraja but kelamaan di balikpapan. Bokap gw pernah cerita masalah org meninggal tapi masih bisa jln, menurut gw itu ga lazim tapi mau gimana lagi, lah kenyataannya emang gitu n banyak orang yg gw ajak diskusi masalah ini dgn melibatkan org" tua (ga perlu anak muda). Alhasil gw percaya coz mereka meng"ia"kan. Kata mereka, zaman dulu emang ada, but berjalannya waktu sekarang udah ga da lagi. coz udah sangat jarang yg punya ilmu" tersebut. kalau masalah hewan yg mati mah, waktu gw umur 7thn lihat sendiri di alang".
Ni salah satu budaya yg wajib di lestarikan alnya keberadaannya sudah mulai hilang.

Anonymous said...

Ini pakai bantuan jin kali Gan. Ada semacam syarat dalam transaksi dan pembayaran kepada jin yang ditugasi membawa mayat. Sama saja seperti jin yang disuruh untuk membawa santet. Mungkin.

Palulun Bidangan said...

Selamat siang, saudara. Perkenalkan saya Lulun Bidangan, dan kebetulan saya orang Toraja asli. Setelah membaca artikel anda, ada beberapa hal yang saya ingin luruskan.

Pertama, ritual mayat berjalan. Untuk sejarah awal mulanya, jujur saja saya belum tahu. Namun, menurut kepercayaan kami saat ini, ritual tersebut dilakukan bukan ketika orang tersebut "baru" meninggal. Tapi, ada rentan waktu tertentu yang sudah ditentukan. Kemudian, menurut keterangan dari keluarga saya, hingga saat ini ritual tersebut hanya dilakukan olang keturunan-keturunan tertentu saja. Hal itu bisa ditentukan oleh status sosial seperti yang anda posting di atas.

Kedua, anda mengetakan hanya ada satu foto di internet, bukan? Betul. Untuk hal itu, saya mengambil contoh dari kehidupan saya selama di Toraja. belasan tahun saya di sana, saya hanya mendapati beberapa kali proses upacara ini dilaksanakan. Dan itu pun berada di tengah pedalam di antara pegunungan2 di sana. Juga harus diperhitugkan, Toraja itu pedalaman kawan kawan, sekedar info internet baru benar2 dimaksimalkan di Toraja sekitar tahun 2005.

Namun, akhir2 ini saya melihat artikel lain yang memuat tentang topik yang sama namun tentu foto yang berbeda.

Palulun Bidangan said...

Wahhh Andela Rassing Lili.. ketemu di artikel seperti ini wkwkwkwkwk.

Palulun Bidangan said...

Sedikit saran. Untuk membuktikan secara maksimal sekaligus menikmati budaya dan alam Toraja, bisa dicoba travelling ke Toraja.

Untuk ritual Rambu Solo' hampir setiap minggu ada, namun di wilayah-wilayah yang berbeda-beda tentunya. Kemudian kentalnya Aluk Todolo itu tergantung pada kepercayaan orang itu sekarang ini. Lain lagi, semakin tinggi status sosial orang yang meninggal, maka semakin periah upacara rambu solo berlangsung.

Untuk Ritual Ma' Nenek, jujur saja itu sangat langka saat ini, terakhir kali info yang saya dapatkan adalah tahun 2012.

Kurre buda
Misa' Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate :)

Palulun Bidangan said...

Kemudian saya ingin merespon saudara yang mengatakan Tampubolon itu orang Batak.

Singkat saja, begini: Saya tidak mengatakan anda salah atau tidak mengenai Tampubolon orang Batak atau Toraja. Hanya saja, mungkin anda bisa memastikan hal tersebut lewat artikel-artikel yang membahas tentang sejarah orang Toraja dengan Batak, Apa Hubungan antara Toraja dan Batak. Dan kalau perlu, kupas tuntas arti nama dari Danau TOBA. Karena sesuai salah seorang juru kunci sebuah objek wisata di dekat rumah saya, TOBA berarti Toraja Batak.

Jadi, bukan tidak mungkin kan? :)

Palulun Bidangan said...

Suku Toraja dan Suku Batak sama-sama dari satu nenek moyang.
Bisa dilihat dari aksen, kepriadian rata-rata, dan lain-lain.
Namun, untuk lebih jauh, bisa dijelaskan lewat simbol-simbol yang ada di rumah adat Toraja, Tongkonan namanya.

adan davidson said...

yah..saya luruskan lagi, foto yg beredar di internet itu HOAX. Ritual di foto tersebut disebut "ma'nenek", bukan bikin mayat jalan atau segala macam melainkan penghormatan untuk mendiang dengan cara mengganti pakaian mayat leluhur. Lalu, ritual yang dimaksudkan dengan mengendalikan mayat ke kuburan atau sanak keluarganya yang masih hidup, disebut "ma' panglingka tomate", dalam bahasa indonesia, "menggerakkan orang mati/membuat orang mati berjalan". Ritual ini sudah sangat jarang didengar masyarakat di Tana Toraja, tetapi saya mendengar dari tetua di sana, ritual masih ada hanya saja cuma berada di pedalaman yang belum terkena arus globalisasi sama sekali. Kebetulan saya orang Toraja dan tahu tentang fakta foto HOAX yang beredar. yah, mungkin aje wartawannya bego, besar-besarin cerita.

Fery siswanto said...

bgus

Hadi Sucipto said...

Kok malah hoax hoax sih... aku yang nggak ngerti ya percaya aja sih ... yang pnting ada tujuan dan maksud yang bagus ...

Yusuf Tonapa said...

Salam kenal.
Saya adalah org Toraja asli. Mengenai foto di atas, itu bukanlah ritual membuat mayat berjalan tetapi ritual "ma'nene", yakni ritual penghormatan terhadap mendiang dgn mengganti pakaian mayat yang selalu dilaksanaka setiap bulan Agustus. Jujur, foto di atas mrupakan hsil jepretan dari teman sekampung saya, letak kuburannya dinamakan "Balle'" yg terletak di Pangala', Rindingallo, Toraja Utara. Jadi saya tahu betul foto ini.

Kalau Anda mencari di internet foto mayat berjalan, saya pstikan anda tidak akan menemukan foto itu karena itu hanya dilakukan oleh org2 Toraja pada zaman dulu yg tentunya masih buta akan dunia teknologi modern seperti kamera, dan lain sebagainya.

zavi Khaerul said...

tidak menafikan hal hal gaib, kejadian seperti itu bisa saja terjadi, namun tidak berarti benar benar rohnya yg menggerakan. Kemungkinan besar jin.

zavi Khaerul said...

Gk bakal ada data akurat karena masih katanya. seperti berita hoax beredar secara viral

geni datu tasik said...

Membuat mayat berjalan itu tdk sembarangan di lakukakn, hrus dlam keadaan terpaksa, contohx kalau ke hutan 2 atw 3 orng trus 1 mninggl ya g'mungkin kuat kalau cma 2 orng yg gotong, dlm keadaan sperti itu bru boleh di pergunakan,.krna skrng smua daerah di toraja uda msuk transportasi mknx skrng uda g' di jumpai lgi myat brjlan.dlu mayat itu di kasih jalan kalau misalx ada orng toraja yg meninggl di kampungx orng atw di hutan yg membutuhkan perjlanan berhari2 tpi tdak cukup orang u gotong atw tdk ada kuda, intihnx uda dlam keadaan terpaksa mkanx jaln 1 satunx ya di ksih jlan dengan ritual khusus..jdi jngan berhrap itu akan di temukan lgi skrng di toraja krna transportsi uda ada..tpi pada dasarx msih ada orng toraja yg bisa melakukanx di mana saja asl dlm keadaan terpksa sprti tdi..trimksh smoga membantu..putra toraja

Agus Hustia said...

itu diluar akal,,, adakah penjelasan secara ilmiyah mngenai ritual itu,,,, ?? jasad tak bisa bergerak kcuali ada roh,, kmungkinan itu memasukkan jin kejasad, tp itu juga mustahil,, karna jin tak bisa menyatu dg jasad zahir, (beda element)entahlah,, aq lg butuh alasan yg bisa ditangkap akal dan sains,

Unknown said...

saya orng toraja asli...sy tidak pernah melihat secara langsung tpi memang ditoraja ada ritual seperti itu,,,namun sekarang sudah jarang dilakukan...

Torayakan said...

Saya org toraja, besar dan lahir di toraja. Sepengetahuan saya, foto di atas adalah upacara ma'nene' dimana setiap tahun pakaian dr keluarga yg meninggal akan diganti. Acara menjalankan org mati sekarang sudah hampir tidak ada lagi karena skrg sdah ada transportasi untuk mgantar jasad org mati, selain kena bertentangan dgn ajaran mayoritas d sana yakni Kristiani. Tp beberapa daerah pedalaman masih melakukannya. Acaranya dilakukan sebelum musim tanam padi. Pemalinya ialah dilarang menyapa mayat yg berjalan, kau dilanggar tulang mayat akan berhamburan. Tradisinya biasanya ada pada akhir november atau awal bln juni. Di Mamasa, juga ada tradisi ini, bhkn lebih sering karena masih belum terlalu tersentuh kemajuan zaman. Mamasa mmg serumpun dan sgt dekat hub. Kekeluargaannya dgm n suku toraja.

Ranjed Palulun said...

Sorry Bos kalau Mungkin Beda Pendapat ..
Saya Peranakan TORAJA & MAMASA .. Walaupun saya tidak tau Persis itu Cerita .. tapi saya sering di Ceritakan sama nenek saya ..
Soal Mayat Berjalan itu Aslinya dari MAMASA bukan Asli dari TORAJA .. bahkan dari Orang dari TORAJA saja Mengakui itu Memang Asli dari MAMASA..

Ranjed Palulun said...

Sorry Bos kalau Mungkin Beda Pendapat ..
Saya Peranakan TORAJA & MAMASA .. Walaupun saya tidak tau Persis itu Cerita .. tapi saya sering di Ceritakan sama nenek saya ..
Soal Mayat Berjalan itu Aslinya dari MAMASA bukan Asli dari TORAJA .. bahkan dari Orang dari TORAJA saja Mengakui itu Memang Asli dari MAMASA..

Gusti Tu'baran said...

Ranjet palulun@ Judul artikel ini benarkah ORANG TORAJA bisa mengendalikan mayat orang mati?
Sebenarnya anda tidak beda pendpt dngn penulis karna di mamasa adalah ORANG TORAJA jg. Benar gak?

Anonymous said...

Saya seorang yang pernah belajar tentang dunia Pariwisata di Sulawesi Selatan. Sedikit banyak saya telah mendengar tentang hal ini. Sudah lama.
Tapi baru sekarang nge-trend di internet, hanya karena postingan salah seorang keluarga saat acara tersebut (Ma'Nene) dilaksanakan di Tana Toraja.
Mayat Berjalan itu pernah dilakukan di Mamasa/Toraja Barat saat itu. Dulu. Bukan di Tana Toraja.
Ini karena kondisi wilayah di Mamasa yang berbukit-bukit/Pegunungan, dan tidak memungkinkan kaum keluarga untuk mengangkat/memikul jenazah tsb.
Saksi-saksi yang pernah melihat kejadian ini, adalah orang-orang yang bermukim di perbatasan wilayah Mamasa (Orang Majene, Mamuju, Polewali, dan Tana Toraja), ketika jenazah tersebut hendak "dipulangkan" ke kampung halamannya/Mamasa.
Wisatawan mancanegara pun telah mengetahui akan hal ini, sehingga ketika mereka mengadakan tour ke Mamasa, hal yang pertama kali ingin mereka saksikan adalah "Deadman Walking".
Sekarang yang marak beredar di internet ini adalah tradisi "Ma' Nene" di Tana Toraja. Ini adalah tradisi untuk mengganti pakaian orang-orang tua yang telah meninggal (sebagai penghormatan).
Jangan lupa, tradisi "Mengganti Pakaian". Bukan men-jalan-kan mayat.
Yang dapat kita lihat adalah foto-foto jenazah yang dipegang/ditopang oleh kaum keluarga. Tidak ada video ketika mayat tersebut berjalan.
Di Mamasa, ketika jenazah akan dibuat berjalan, maka di leher jenazah tersebut digantungkan dua buah kelapa yang diikat. Dan ini dilakukan saat orang yang baru saja meninggal akan dikuburkan atau pun dipulangkan ke Mamasa.
Bukan jenazah yang tengkoraknya sudah nampak.
Mendahului mayat berjalan tersebut, harus ada seseorang yang ditugaskan untuk memberitahukan kepada orang-orang lain di sepanjang perjalanan agar kiranya tidak menyapa orang yang telah mati itu. Sehubungan dengan budaya orang-orang Mamasa yang ramah untuk saling menyapa (bagaikan semut). Saya pernah membuktikan sapaan yang tak putus tersebut di sepanjang perjalanan. Entah yah di zaman sekarang.
Mungkin ini sedikit klarifikasi dari saya. Semoga bermanfaat.